doink-naruto.jpg

Masa remaja identik dengan masa yang penuh dengan dinamika dan problematika. Berbagai kegiatan dan tantangan sering kali ingin dicoba dilakukan sebagai bentuk dorongan dari rasa ingin tahu.

REMAJA kadang ingin memperlihatkan eksistensi dirinya, tetapi kerap kali mereka tanpa memperhitungkan akibat dan manfaatnya. Seiring dengan semakin kompleksnya kehidupan di masyarakat dan gaya hidup metropolis, dipermudah dengan sarana teknologi dan media masa yang semakin canggih, memicu remaja semakin rentan terhadap pengaruh penyalahgunaan narkotika, alkohol, Psikotropika dan zat adiktif (NAPZA). Seperti kita ketahui dari media cetak ataupun elektronik, semakin hari semakin bertambah korban dari penyalahgunaan NAPZA ini dengan berbagai eksesnya.

Kondisi ini sungguh memprihatinkan dan tak mustahil kehancuran suatu bangsa sudah di depan mata jika kita tidak segera mengantisipasinya. Merupakan tanggung jawab kita bersama untuk senantiasa mewaspadai dan membentengi pengaruh NAPZA merusak generasi muda penerus bangsa dan aset negara, serta menanamkan pemikiran pada anak-anak untuk tidak ada niat mencoba NAPZA dan memutus mata rantai penyalahgunaan NAPZA.

Oleh karena itu, langkah pertama dan utama yakni dengan mengoptimalkan peran orang tua atau keluarga. Tanamkan keteladan, wujudkan nilai-nilai spiritual keagamaan sedini mungkin sehingga anak tahu norma-norma, etika, haram dan halal, hukuman dan ganjaran yang berlaku di dunia serta akhirat. Lakukan komunikasi secara rutin antara orang tua dan anak, apa saja kegiatan hari ini dan hari esok dengan siapa anak bergaul. Biasakan supaya anak berkata dan bertindak jujur dan terbuka, apa kesulitan atau masalah yang dihadapi anak, tanggapilah secara bijak dan tunjukkan solusinya seandainya anak memerlukan.

Orang tua perlu meluangkan waktu untuk memerhatikan kamar tidur anak dan barang-barang yang dimiliki. Adakah benda-benda yang tak lazim dimiliki, apakah ada indikasi merokok, mencari tahu perkembangan anak di sekolah, baik tentang akademik ataupun perilakunya. Hal ini selaras dengan pendapat John W. Santrock (1995) yang menyatakan bahwa remaja yang nakal sering kali berasal dari keluarga-keluarga di mana orang tuanya jarang memantau anak-anak mereka, memberi sedikit dukungan, dan mendisiplinkan mereka secara tidak efektif.

Kedua peran serta lembaga pendidikan, yakni dengan memantapkan sekolah sebagai lingkungan pendidikan (wawasan wiyatamandala), mengondisikan sekolah bebas rokok dan NAPZA. Meningkatkan komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE).

Memberikan informasi kepada siswa yang belum pernah mencoba merokok dan NAPZA dengan menitikberatkan pada cara hidup dan perilaku yang sehat. Memberikan gambaran yang merugikan akibat dari penyalahgunaan NAPZA, baik bagi pribadi, keluarga, dan lingkungan masyarakat. Penyampaian informasi ini bisa dilakukan pada masa orientasi siswa (MOS) bekerja sama dengan lembaga terkait, atau dengan mengunjungi lembaga-lemabaga rehabilitasi penyalahgunaan NAPZA. Hal ini dimaksudkan agar siswa memperoleh gambaran yang jelas akibat dari penyalahgunaan NAPZA sehingga tidak ada niat untuk melakukannya dan jera bagi yang sudah mencoba ikut-ikutan. Optimalisasi peran guru bimbingan dan konseling untuk mendeteksi gejala-gejala siswa bermasalah agar mendapat penanganan segera.

Dengan berupaya mengantisipasi remaja terlibat penyalahgunaan NAPZA, diharapkan dapat meminimalkan korban-korban berikutnya, sebagai langkah preventif memerangi penyalahgunaan obat-obat terlarang dan NAPZA di lingkungan sendiri. Tentunya peran serta masyarakat sekitar sangat perlu untuk sama-sama satu langkah mengupayakan kawasan lingkungan yang bebas NAPZA melalui kegiatan karang taruna menyiapkan remaja yang tangguh untuk membentuk pribadi yang unggul kelak.***