Sukses adalah keinginan setiap orang. Kata ini sering diasosiasikan dengan keberhasilan- keberhasilan yang bersifat material. Banyak orang menilai bahwa kesuksesan adalah milik orang-orang yang ber-IQ tinggi, lulusan sekolah terbaik dan memiliki keahlian khusus dan terkenal, sehingga mereka mampu bekerja di tempat terbaik dan mendapatkan penghasilan yang lebih dari cukup untuk hidup layak.

Penilaian itu mungkin benar bagi beberapa orang, tapi tidak untuk orang lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa sukses itu adalah sebuah kolaborasi antara kemampuan menentukan tujuan yang ingin diraihnya dalam setiap pekerjaan apapun dengan kemampuan mengelola sumber daya yang dimilikinya, baik berupa waktu, kemampuan fisik dan mental untuk mewujudkan tujuannya. Meskipun konsep kesuksesan itu akhirnya bersifat universal, namun bentuk kesuksesannya tidak akan sama.

Bagaimana orang memandang hidup dan tujuan hidupnya akan memberi pengaruh pada cara pandangnya terhadap bentuk kesuksesan itu. Untuk mencapai sebuah sukses, kematangan pribadi seseorang sangat dibutuhkan. Sebab kematangan pribadi akan mengantarkan seseorang pada sikap optimis dan kesadaran bahwa apa yang dicita-citakannya akan mudah diraih. Kematangan diri yang sering juga diasosiasikan dengan kepercayaan diri menjadi faktor penting yang mengakibatkan perbedaan besar antara sukses dan gagal. Bagaimana menumbuhkan kepercayaan diri dalam diri kita agar tercipta sebuah kondisi di mana kita merasa optimistis dalam memandang dan menghadapi sesuatu dalam hidup kita? Mari kita lihat kiat-kiat berikut :

1. Berani menerima tanggung jawab. Gerald Kushel, Ed.D., direktur The Institute of Effective Thinking, pernah mengadakan penelitian terhadap sejumlah manajer. Dari penelitian tersebut, Kushel menyimpulkan bahwa ia menemukan sifat terpenting yang dimiliki oleh hampir semua manajer yang memiliki kinerja tinggi. Dan sifat tersebut adalah rasa tanggung jawab yang mendorong mereka untuk tampil dan berani menghadapi hambatan apapun yang menghadangnya. Sebaliknya, manajer yang berkinerja buruk dan gagal mencapai kapasitas maksimumnya cenderung melimpahkan kesalahannya pada siapa saja. Karena itu, beranilah kita memikul beban tanggung jawab seberat dan seringan apapun dan berusaha menunaikannya dengan amanah dan tidak bekerja setengah-setengah. Karena Allah menyukai orang-orang yang apabila mengerjakan sesuatu selalu mengerjakannya dengan sebaik-baiknya.

2. Mengembangkan pola pikir positif. Jalan menuju kepercayaan diri akan semakin cepat manakala kita mengembangkan nilai-nilai positif pada diri sendiri. Menurut psikolog Robert Anthony, PhD., salah satu cara untuk mengembangkan nilai-nilai positif adalah dengan menghilangkan ungkapan-ungkapan yang merendahkan kemampuan kita dan menggantinya dengan ungkapan-ungkapan yang kreatif. Dia menganjurkan membuat peralihan bahasa yang sederhana tapi efektif dari pernyataan negatif ke pernyataan positif. Percayalah, bahwa gelas itu berisi setengah penuh, bukan setengah kosong.

3. Mengenali potensi diri. Segeralah lacak, gali, dan eksplorasi potensi sukses yang ada pada diri kita. Meskipun yang paling tahu tentang diri kita adalah kita, tidak ada salahnya bertanya kepada orang-orang terdekat untuk membantu kita menemukan potensi kita, termasuk juga mengikuti psikotes dan mendatangi para ahli. Sehingga kita bisa mengenali hal-hal positif apa dalam diri kita yang bisa kita kontribusikan untuk diri kita sendiri maupun lingkungan kita. Dengan demikian kita bisa bergerak sesuai dengan potensi yang kita miliki untuk mengisi sebagian kewajiban-kewajiban kifayah yang ditetapkan atas ummat kita.

4. Menghargai diri sendiri . Rasa tidak percaya diri seringkali muncul karena kita tidak mampu menghargai diri sendiri. Menghargai diri sendiri bukanlah berarti menciptakan dan menumbuhkan kebanggaan yang besar terhadap diri tetapi lebih berupa pengenalan dan penerimaan atas diri kita apa adanya, baik itu kelebihan maupun kelemahan yang dimiliki. Sadari juga, bahwa dalam kesempurnaan-Nya menciptakan manusia, Allah menyertakan kelemahan-kelemahan dalam diri manusia yang dengannya mereka menjadi saling membutuhkan.

5. Jangan pernah berhenti berkembang .Jadikan belajar seumur hidup sebagai motto, dan sadari bahwa pendidikan tak pernah berakhir tapi selalu terus menerus dimulai di setiap tingkatan kehidupan dan terus berlanjut hingga akhir kehidupan. Pendidikan tidak terbatas di ruang kelas dan tidak selalu berarti mendapatkan sertifikat atas proses belajarnya. Artinya mencoba ide baru, membaca buku, surat kabar, majalah, dan menggunakan Internet merupakan bentuk pendidikan pula. Jangan pernah takut terhadap sesuatu yang belum kita ketahui, karena pada akhirnya, akan terlihat bahwa ketakutan-ketakutan kita kebanyakan hanyalah ilusi.

6. Berani mengambil risiko. Keberanian dalam mengambil risiko ini penting, sebab belajar mengambil risiko yang masuk akal lebih baik daripada menyerah pada rasa takut yang tidak pada tempatnya. Cobalah menerima tantangan, kendati terasa menakutkan atau menciutkan hati. Cari dukungan sebanyak mungkin. Dengan melakukan hal ini, kita akan mendapat banyak peluang yang tak ternilai harganya. Namun jangan lupa, ketika mencoba sesuatu kita harus siap dengan hasil yang sesuai atau tidak sesuai dengan keinginan. Kalau hasilnya tak sesuai dengan keinginan, bisa jadi itulah yang terbaik menurut Allah Azza wa Jalla. Kalau kita sudah mencoba, maka niatnya saja sudah menjadi amal. Orang yang gagal adalah orang yang tak pernah berani mencoba. Bukankah menaiki anak tangga kelima puluh harus diawali dengan tangga pertama?

7. Mencari dan menciptakan lingkungan kondusif . Bisa jadi, tidak semua orang di sekitar kita memberikan dorongan, dukungan, dan bersikap positif pada kita. Hal inilah yang tak jarang malah melunturkan rasa percaya diri kita dengan mempertanyakan kemampuan, pengalaman, dan aspirasi-aspirasi kita. Ada baiknya jika kita sedikit mengambil jarak dengan sebijak mungkin bila ada pihak-pihak yang mencoba melunturkan kepercayaan diri kita sambil terus berintrospeksi. Selain itu cari dan ciptakan lingkungan yang kondusif untuk menumbuhkan rasa percaya diri, karena rasa percaya diri merupakan sifat “menular”. Jika kita dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki cara pandang positif, bersemangat, dan selalu optimis maka kita memiliki kecenderungan untuk meniru sifat tersebut. Kita harus mulai senang bergaul dengan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk bangkit. Sebab bergaul dengan orang-orang yang percaya diri, Insya Allah semangatnya akan menular kepada diri kita. Sesudah perhitungan kita sebagai manusia matang, ada satu hal yang lebih penting harus kita sertakan untuk menumbuhkan kepercayaan dalam diri kita.