sumpah-okkkk.gifAwalnya, Pemuda-Pemudi Indonesia pada masa dahulu tidak begitu memahami pentingnya arti dari kepemimpinan pemuda sehingga muncul beberapa pertanyaan sebagai berikut: Apa itu kepemimpinan pemuda? Dapat seberapa besarkah pengaruh dan arti kepemimpinan pemuda itu? Apa yang yang membuat kepemimpinan pemuda sangat diperlukan,khususnya di masa sekarang ini? Umumya pada masa sekarang ini pemuda-pemuda Indonesia kurang begitu berminat untuk mengetahui masalah masalah yang ada di sekitar mereka. Hal ini terlihat dari banyaknya pemuda Indonesia yang tidak peduli akan akan dengan situasi yang terjadi pada bangsa ini dan akhirnya mereka melakukan tindakan yang melanggar hukum. Pada sisi lainnya sewaktu bangsa ini belum merdeka pemuda berusaha untuk bersatu agar bangsa ini terbebas dari penjajah.Malahan dahulu pemuda di masa itu tidak sekolah,tetapi mereka tetap berusaha bersatu walaupun kadang ada perselisihan diantara mereka. Dan pemuda di masa itu belum begitu paham pentingnya sosok “KEPEMIMPINAN PEMUDA” yang dapat membawa semangat bagi pemuda.

Pada intinya arti dari “KEPEMIMPINAN PEMUDA”adalah perilaku yang menentukan kecemerlangan-kecermelangan yang memberikan semacam upaya atau dukungan ekstra bagi pihak anggota (pemuda lainnya) dalam suatu organisasi kepemudaan. Atau sama dengan sisi lain yang sering disebut dengan “motivasi”. Kepemimpinan pemuda merupakan modal yang sangat penting untuk menjalankan fungsi dan usaha untuk meletakkan berbagai masalah kepemimpinan dalam perspektifnya serta melakukan kepemimpinan partisipasif yakni sejauh mana pemimpin membagi kekuasaan dan mengambil keputusan bersama dengan para anggota(pengikut) sehingga kedua belah pihak antara pemimpin dan anggota dapat megerti serta memahami implikasi-implikasi yang ada sehingga dapat megerti kondisi-kondisi yang mana akan atau tidak akan menghantar kita pada keefektifitan yang lebih besar bagi anggota maupun bagi organisasi yang dipimpin.
Harus dipahami bahwa sekarang ini sosok kepemimpinan pemuda saat ini sangat diperlukan mengingat persoalan kepemimimpinan pemuda merupakan persoalan yang paling besar dalam sistem sistem -sistem normatif dan pengaruhnya sangat besar karena di dalamnya terikat pada motif- motif tindakan dan tujuan bersama. Pada keterlibatan moral yang tinggi dan pada keyakinan bahwa apa yang di kerjakan adalah “Penting”. Disamping itu harus diingat kepemimpinan pemuda mempunyai suatu arti dari kata “kepemimpinan”. Dan arti kata ini dapat diambil salah satu teori dan program penelitian mengenai pemimpin dari kelompok -kelompok orientasi kerja yang tertua dan masih banyak dipertentangkan ialah teori LPC dari Fiedler (1967,1971) karena Fiedler terutama bekerja dengan kelompok-kelompok yang pemimpinya dapat dikenal dengan jelas dan hasilnya dapat diukur dengan tepat (tim bola basket, awak pesawat, koperasi-koperasi kecil) dari tolak ukur tersebut membuat Fiedler mula-mula mengembangkan suatu ukuran orientasi dasar pemimpin yang disebut rekan sekerja yang kurang disukai Least Preferred Co-worker(LPC). Seorang pemimpin diminta mengingat-ingat dengan siapa saja ia berkerjasama dengan baik. Pemimpin itu berusaha kemudian itu diminta untuk mengambarkan keadaan, seperti “menyenangkan-tidak menyenangkan” dapat “dipercaya-tidak dapat dipercaya” dan seterusnya. Kata -kata sifat itu diberi nilai sehubungan dengan sejauh mana pemimpin itu menganggap LPC menunjukan sifat-sifat yang paling negatif atau paling positif. Pemimpin yang diberi nilai LPC rendah (terutama nilai-nilai negatif) dianggap terutama berorientasi pada perkerjaan (memperhatikan prestasi karena mereka memberikan penilaan yang buruk pada prestasi orang lain) Dan pemimpin yang memberi nilai LPC tinggi ( terutama nilai-nilai positif) dianggap terutama pada hubungan ( orientasi pada hubungan rekan kerja/anggota yang paling yang tidak sekalipun dianggap mempunyai arti). Karena LPC suatu orientasi yang dianggap relatif stabil, maka implikasi dari teori macam ini adalah bahwa para pemimpin seharusnya menemukan orientasi mereka sendiri. Sebaliknya Teori Vroom lebih mementingkan tugas dan bawahan.Teori menitikberatkan pada pola pribadi seorang pemimpin harus menunjukan hubunga yang relevan dengan sifat-sifat, kegiatan, dan tujuan para bawahanya. Jelaslah bahwa suatu analisis yang memadai mengenai kepemimpinan tidak hanya melibatkan penelahaaan terhadap para pemimpimnya, tetapi pada situasinya. Dari kedua teori diatas akan arti” kepemimpinan” kita dapat menemukan perbedaan konseptual yang nyata dapat diketahui. Model Fiedler dibangun atas ruang lingkup situasi kepemimpinan yang luas yang menuntut kriterium keefektifan kelompok kerja yang keras. Kalau penelitian Vroom sebelumnya memusatkan perhatian pada macam-macam situasi yang serupa. Modelnya sekarang terbatas sekarang pada pada sosok pemimpinan yang melukiskan perilaku mereka sendiri dalam konteks persoalan-persoalan putusan yang khas.

Berikutnya setelah kita dapat memahami arti kepemimpinan yang ada pada uraian di atas. Kita juga harus mengetahui Pengaruh dan Peran “Kepemimpinan pemuda” karena percuma kalau mengetahui teori tapi tidak tahu fungsi, peran, serta pengaruh dari “Kepemimpinan pemuda”itu sendiri karena dibutuhkan lebih dari sekadar teori untuk memahami arti makna kata “Kepemimpinan pemuda”. Di samping itu “Kepemimpinan pemuda” Indonesia masih perlu pembentukan (in making). Karena pemuda Indonesia terdiri dari berbagai elemen kepemudaan yang mercermikan mozaik sebuah masyarakat yang multikultural dari berbagai macam bentuk kehidupan dan orientasi nilai yang pembentukannya sangat sulit (tidak seperti membalikkan tangan) tapi mempunyai ciri khas tersendiri apabila dibentuk oleh wadah yang berkualitas yang dapat membentuk karakter jiwa, sikap kepemimpinan pemuda itu tersebut. Lagipula Pemuda -pemudi Indonesia haruslah membentuk karakter seperti itu serta mereproduksi pemuda yang akan datang yang lebih berkualitas. Dan itu dibutuhkan kerja sama, solidaritas, rasa persatuan dan kesatuan yang kuat antara pemuda-pemudi Indonesia.

Untuk sementara ini Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang masih berkembang, tetapi dibalik itu semua, Bangsa indonesia adalah bangsa yang memiliki segudang potensi yang beranekaragam karena masyarakat adalah masyarakat yang beraneka ragam pula serta memiliki pemuda yang cukup berkualitas, Tapi hanya kurang perhatian dari pemerintah serta kesadaran para pemuda itu sendiri untuk membentuk dirinya semakin berkualitas padahal pemuda-pemudi indonesia kini adalah pewaris negara ini yang di masa depan yang mempunyai pengaruh serta fungsi yang sangat besar bagi Bangsa Indonesia. Berbagai perubahan yang ada dalam suatu negara khususya Indonesia selalu dikaitkan oleh peran pemuda yang selalu ditempatkan di garda depan. Peranannya menyeluruh mempengaruhi setiap aspek hidup negara seperti kata Bung Karno “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”. Kata-kata ini yang disampaikam oleh Bung Karno dalam Pidato kenegaraan pada masa kejayaannya. Dalam pikiran Bung Karno Pemuda digambarkan sosok unggul, bergairah, mempunyai intelektual yang baik, semangat yang berapi-api dan jiwa revolusioner. Serta tak ketinggalan ungakapan guru bangsa Cak Nur (Nurcholish Madjid) sebagai eksperimentasi gagasan “kalimatun sawwa common denominator” yakni titik temu berbagai kepentingan dan keanekaragaman wajah pemuda kita yang menjadi model eksperimentasi kepemimpinan pemuda yang mampu mengelola dan memandu eksperimentasi keragaman bukan laknat, melainkan menjadi elemen sosial dan center basis. Pemuda-Pemudi Indonesia adalah ujung tombak sebuah bangsa serta investasi jangka panjang bagi negara Indonesia karena mencermikan semangat moderatisme, demokrasi, inklusifisme.”

Bagaimana pun barisan kepemimpinan pemuda Indonesia harus dibentuk dengan baik. Mengingat situasi Indonesia saat ini sedang mengalami masalah Kepemimpinan pemuda yang mulai tidak tampak lagi ketajamanya di masa era global ini karena adanya kendala pada saat sekarang ini misalnya: Tingkat pendidikan pemuda yang masih rendah, Peredaran obat-obat terlarang yang kian marak di kalangan pemuda, Rendahnya kemampuan pemuda menciptakan usaha sendiri, Tingkat pengganguran yang makin tinggi, Masih rendahnya pembinaan pemuda dan organisasi masyarakat (OKP), Munculnya pola patronase dan senioritas pada yang akhirnya membuahkan sikap introvert dan minder dari generasi yang jauh lebih muda karena mereka tidak memiliki ruang untuk mengekspresikan kemampuan mereka serta sikap patronase menimbulkan bias pemahaman demokrasi. Pemikiran ini yang masih dianut sebagian pemuda dan mahasiswa Indonesia, Hal ini bisa memperkecil ruang demokrasi dan Bagaimana membentuk ruang demokrasi sedangkan ruangan itu sangat kecil.

Format kepemimpinan pemuda juga harus disesuaikan dengan ” jiwa zaman” mengingat pada sekarang ini kita hidup sebagai pemuda bangsa di zaman modern yang bentuk kehidupan makin kompleks, demikian pula makin penuh resiko. Seperti yang dikatakan oleh Giddens “Modernity is a risk culture“. Modernitas memang mengurangi resiko baru pada bidang-bidang dan pada cara hidup tertentu, Tetapi juga membawa parameter risiko yang baru yang tak dikenal pada era sebelumnya Untuk itu diperlukan ketangguhan, baik mental maupun fisik. Tidak semua orang berani, dapat atau mampu mengambil jalan yang penuh resiko. Kepemimpinan bisa berada di muka, bisa di tengah, dan bisa di belakang, seperti ungkapan ” ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani”. Tidak semua orang bisa jadi pemimpin. Pemimpin juga tidak dibatasi oleh usia, bahkan dengan tambah usia makin banyak pengalaman, makin arif kepemimpinan. Pemuda-Pemudi Bangsa Indonesia haruslah ingat akan para pahlawan perjuangan bangsa ini yang telah berusaha mempertahankan bangsa ini dengan darah para mereka, air mata, cinta keluarga yang dipertaruhkan, harta benda, cita-cita, harapan para pahlawan yang telah gugur pada medan pertempuran melawan para penjajah. Mereka yang berjuang pada waktu itu berharap walaupun mereka gugur pada pertempuran ini mereka yakin bahwa penerus generasi bangsa Indonesia selanjutnya pasti membawa perubahan yang besar pada bangsa ini sehingga bangsa ini bisa dikenal menjadi bangsa yang kuat akan ketahanan nasionalnya.

Di samping itu membentuk jiwa Kepemimpinan pemuda, Pemuda-Pemudi Indonesia juga harus memiliki sikap pada pengamalan UUD 1945, Pancasila, serta agama yang dianut oleh Pemuda-Pemudi Indonesia. Karena hal ini adalah salah satu unsur yang sangat penting yang harus dipahami serta diamalkan oleh setiap para Pemuda-Pemudi Indonesia. Pada umumnya dasar-dasar seperti Pancasila,UUD 1945, dan Agama haruslah dipahahami terlebih dahulu sebelum para pemuda bisa membentuk diri menjadi seorang pemimpin. Sehingga apabila telah memiliki jiwa seorang pemimpin para pemuda megerti Bagaimana membentuk sikap nasioliasme, patriotnisme serta menghayati arti pancasila , karena di dalam arti kata itu mengandung akan pentingnya akan mempertahankan idealisme negara Indonesia yang telah dibentuk dengan susah payah demi membuat suatu Dasar, Pedoman, Cita-Cita, Harapan, Tujuan Negara Indonesia. Yang telah bosan dijajah oleh bangsa asing, UUD 1945 dan pancasila adalah wujud cita- cita Bangsa Indonesia yang secara tertulis yang disusun oleh para tokoh bangsa demi kepentingan masyarakat Indonesia. Pemahaman akan UUD 1945 dan Pancasila akan menyadarkan Pemuda-Pemudi Bangsa Indonesia bahwa sebagai penerus generasi para pemuda-pemudi indonesia harus meningkatkan peran serta pemuda dalam pembangunan sosial dan politik, menumbuhkan budaya belajar, memantapkan pemahaman dan perilaku keagamaan, menumbuhkan semangat kewirausahaaan, mengembangkan minat seni dan olahraga, serta kebebasan dalam bermasyarakat, berorganisasi, mengeluarkan pendapat, dan beragama yang semua itu ada dalam UUD 1945 pasal 28. Karena kebebasan tersebut penting agar Pemuda-Pemudi sadar mereka bagian dari Bangsa Indonesia yang memiliki Peran, Hak, Kewajiban yang sama dalam membangun negara Indonesia serta mendapat keadilan yang sama di mata hukum tanpa memandang latar belakang yang bersangkutan.

Pada intinya untuk menuju Indonesia sesuai cita-cita proklamasi 1945 maka kita sebagai Pemuda-Pemudi yang akan membawa perubahan pada bangsa ini harus bisa menunjukkan bahwa walaupun kita berbeda dari suku, agama, budaya, bahasa daerah, Kita adalah Bangsa Indonesia yang memiliki jiwa kepemimpinan pemuda yang baik, tangguh, serta mampu bersaing di dunia internasional, dan memiliki sikap nasionalisme, patriotnisme dan sifat akhlak agama yang baik. Walaupun saat ini beredar isu-isu disintegrasi bangsa. Saya tetap yakin pada pemuda-pemudi indonesia saat ini dan seterusnya. Mereka pasti tidak akan mau melihat Indonesia ini pecah dan dimanfaatkan oleh pihak yang akan merusak bangsa ini demi kepentingan mereka belaka. Hal ini ini pasti bisa diwujudkan karena Pemuda-Pemudi bangsa Indonesia adalah generasi bangsa yang memiliki dasar negara yang kuat serta mempunyai dasar kebebasan yang baik pada masyarakat baik itu sendiri dalam mengerluarkan pendapat, memiliki sesuatu, hidup aman, dan sebagainya. Membangun jiwa Kepemimpinan pemuda yang baik itu haruslah dimulai pada kesadaran pribadi Pemuda-Pemudi sendiri dan membentuk jiwa merdeka ( kebebasan) pada diri mereka karena seperti yang diungkapan almarhum PramoedyaKita harus adil sejak dalam pikiran“. Karena hal ini adalah kekuatan sebuah ide atau gagasan mampu menata dunia yang menciptakan ide independensi di atas idealisme, di mana pun kita berdiri. Bukan untuk menciptakan ide pragmatisme, yang tentu saja hal ini harus disertai oleh kepekaan etik spiritual bagi junjungan moralitas untuk mempedomani arti “kebenaran dan keadilan”.

Sebagai penutup” Mari Kita Pemuda-Pemudi Indonesia Secara Bersama-sama Merubah Bangsa Indonesia Menjadi Bangsa Yang Kuat Dan Mampu Bersaing Di Mata dunia Serta Menciptakan Bangsa Yang Cinta Damai, Adil, Ramah, Aman Yang Sesuai Dengan Slogan Pancasila” BHINEKKA TUNGGAL IKA”. SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA YANG KE- 79. HIDUP PEMUDA INDONESIA DAN JADILAH PENERANG BANGSA YANG TERUS BERSINAR. HIDUP PEMUDA-PEMUDI INDONESIA.